Dari Pasar Kami Melihat Dunia

Written By

Kurnia Widiasih

Author

Mata tuanya menatap sedih saat anak-anak bermain dengan lincah di lorong pasar, disaat anak seumurannya sedang sekolah. Pak Inyo W. Oroh, pemilik mata sedih itu. Apa yang ia lihat menggerakkan hatinya untuk membantu anak-anak ini bisa belajar lagi. Lorong kecil di dalam Pasar Karombasan jadi saksi bisu bagaimana kerasnya kehidupan anak-anak di sana. Mereka berlarian, bermain sepanjang hari tanpa pengawasan dari orang tua mereka.

“Bagaimana cara mengarahkan anak-anak terlantar ini jadi anak yang punya masa depan?”, kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Lalu Pak Inyo terpikir untuk membuat satu taman bacaan di tengah Pasar Karombasan. Tujuannya agar seluruh aktivitas bermain mereka berpusat di Pasar Pustaka. Jadi mereka bisa belajar, membaca, juga bermain. Karena menurut Pak Inyo, buku adalah jendela dunia. Buku yang membuat anak-anak ini berani untuk bermimpi dan melihat ilmu yang sangat luas.

Pasar Pustaka hadir di sudut Pasar Karombasan, sebagai taman baca dan tempat belajar untuk anak Pasar Karombasan. Jenis buku di tempat ini bermacam-macam, ada buku cerita bergambar, ensiklopedia, buku sekolah, dan pengetahuan umum lainnya. Cara mereka membaca? Mereka cukup datang di waktu yang telah ditentukan, dan mereka bisa membaca apapun sepuasnya.

Sejak berdiri sampai sekarang, Pasar Pustaka punya 16 relawan pengajar, termasuk Feby. Pengajar bergiliran untuk mengajar di kelas Pasar Pustaka, dalam seminggu hanya ada 3 kali pertemuan. Jumlah anak yang diajar pun tidak menentu, kira-kira ada 50 anak kalau semuanya datang. Biasanya anak-anak ini diajarkan untuk membaca dan pengetahuan umum. Selain itu, mereka juga belajar untuk membuat prakarya, seperti celengan dari kertas.

Anak-anak Pasar Karombasan menjadi sangat antusias dengan ilmu baru yang diajarkan. Mereka selalu menantikan hari di mana mereka belajar di Pasar Pustaka. Anak-anak pun jadi pribadi yang lebih ceria, lebih aktif bertanya tentang hal baru, dan semakin gembira. Mereka pun punya harapan untuk bermimpi lagi.

Membaca membuat mereka punya harapan,” kata Febi. Harapan untuk dapat melihat masa depan dengan lebih cerah, dan melihat apa yang akan mereka lakukan di masa depan. Dokter, polisi, bidan, guru, adalah salah satu dari banyak impian yang mereka gantungkan di pohon impian. Melihat mereka berani untuk bermimpi dan mengejar mimpi itu ada passion kami. Karena Pasar Pustaka ada untuk membuat impian mereka menjadi nyata.

Written By

Kurnia Widiasih

Author